Jakarta – Masalah klasik truk ODOL (Over Dimension Over Load) kembali mencuat, bukan hanya sebagai pelanggaran lalu lintas biasa, namun juga ancaman nyata keselamatan di jalan raya. Kecelakaan maut yang melibatkan truk ODOL seolah menjadi pengingat betapa seriusnya persoalan ini. Akar masalahnya ternyata lebih dalam dari sekadar penegakan hukum, yakni kualitas pengemudi truk itu sendiri.

Mirisnya, profesi pengemudi truk di Indonesia seolah menjadi "anak tiri" jika dibandingkan dengan profesi serupa di moda transportasi lain. Pilot pesawat, nakhoda kapal laut, dan masinis kereta api, semuanya wajib melalui pendidikan dan sertifikasi ketat sebelum diperbolehkan mengendalikan alat transportasi berukuran besar. Lalu, bagaimana dengan pengemudi truk?

"Selama ini, banyak pengemudi truk belajar secara otodidak. Tidak ada pendidikan formal yang terstruktur," ungkap pengamat transportasi Darman Prasetyo, Senin (14/8/2024). "Padahal, teknologi truk terus berkembang. Sistem pengereman saja sudah bermacam-macam, belum lagi transisi ke era ototronik dan mekatronik. Bagaimana bisa pengemudi memahami semua itu tanpa pendidikan yang memadai?"

Kurangnya standarisasi kurikulum dan sertifikasi pengemudi truk menjadi celah yang dimanfaatkan para pemilik armada untuk merekrut tenaga kerja dengan biaya murah. Akibatnya, banyak pengemudi yang kurang kompeten, tidak memahami risiko ODOL, dan minim kesadaran keselamatan.

"Ini bukan hanya soal ODOL. Ini soal kompetensi pengemudi secara keseluruhan. Bagaimana mereka melakukan perawatan dasar kendaraan, bagaimana mereka membaca rambu lalu lintas, bagaimana mereka menghadapi kondisi darurat. Semua itu perlu diajarkan secara sistematis," lanjut Darman.

Pentingnya pendidikan formal bagi pengemudi truk bukan hanya untuk meningkatkan keselamatan, tapi juga untuk meningkatkan profesionalisme profesi itu sendiri. Dengan adanya standarisasi kompetensi, diharapkan para pengemudi truk akan dihargai lebih baik, baik dari segi gaji maupun jaminan sosial.

"Pemerintah harus segera bertindak. Buatlah standar kurikulum, bangun sekolah pengemudi truk, dan wajibkan sertifikasi bagi semua pengemudi. Ini bukan hanya investasi untuk keselamatan, tapi juga investasi untuk masa depan logistik Indonesia," tegas Darman.

Tanpa pembenahan serius di sektor pendidikan pengemudi truk, masalah ODOL akan terus menjadi bom waktu yang siap meledak di jalan raya. Keselamatan pengguna jalan adalah prioritas utama, dan itu dimulai dari memastikan setiap pengemudi truk memiliki kompetensi yang memadai.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini