Kesiapan infrastruktur jalan dan isu seputar kualitas bahan bakar menjadi sorotan menjelang arus mudik Lebaran 2025. Pemerintah menjanjikan jalan nasional yang prima, sementara di sisi lain, perdebatan tentang Pertamax oplosan kembali mencuat di tengah kasus korupsi di tubuh Pertamina.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengklaim bahwa 95,22% dari total 47.604,34 km jalan nasional di seluruh Indonesia dalam kondisi mantap. Ini berarti, sebagian besar jalan bebas dari lubang dan memiliki fasilitas pendukung yang berfungsi dengan baik, menjamin kelancaran perjalanan para pemudik. Kabar baiknya, beberapa ruas tol dikabarkan akan memberikan diskon tarif selama periode mudik Lebaran, meskipun detail ruas mana saja yang terlibat masih belum diumumkan secara rinci.
Namun, euforia ini sedikit ternoda dengan mencuatnya kembali isu Pertamax oplosan. Penetapan Riva Siahaan, mantan Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, sebagai tersangka kasus korupsi terkait tata kelola minyak mentah memicu spekulasi di kalangan masyarakat. Muncul dugaan bahwa praktik pencampuran (oplos) Pertalite menjadi Pertamax mungkin terjadi, yang berpotensi menurunkan kualitas bahan bakar yang dijual ke konsumen.
Ahli energi pun angkat bicara, berusaha meredam kekhawatiran publik. Mereka menjelaskan bahwa secara teknis, oplos bahan bakar bukanlah hal yang mudah dilakukan tanpa meninggalkan jejak yang bisa dideteksi. Namun, penjelasan ini belum sepenuhnya meredakan keraguan, terutama di kalangan pengguna kendaraan yang merasakan perbedaan performa setelah beralih dari Pertalite ke Pertamax.
Selain isu infrastruktur dan kualitas bahan bakar, pasar otomotif Indonesia juga diramaikan dengan kehadiran mobil-mobil hemat energi. Salah satunya adalah Jaecoo J7 SHS, sebuah mobil PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle) yang diklaim sangat irit bahan bakar. Dengan konsumsi bahan bakar yang diklaim hanya membutuhkan Rp 30.000 untuk menempuh jarak 100 km, mobil ini menawarkan solusi ekonomis di tengah harga bahan bakar yang fluktuatif.
Di sisi lain, bagi para pemilik motor, pemahaman tentang perbedaan mesin 2-tak dan 4-tak juga penting. Perbedaan mendasar dalam cara kerja mesin ini mempengaruhi performa, konsumsi bahan bakar, dan perawatan yang dibutuhkan. Memilih jenis motor yang tepat sesuai kebutuhan dapat membantu mengoptimalkan pengeluaran dan pengalaman berkendara.
Menjelang mudik Lebaran 2025, perhatian publik terfokus pada tiga isu utama: infrastruktur jalan yang memadai, kualitas bahan bakar yang terjamin, dan pilihan kendaraan yang hemat energi. Kejelasan informasi dan tindakan tegas dari pemerintah dan pihak terkait sangat dibutuhkan untuk memastikan perjalanan mudik yang aman, nyaman, dan terjangkau bagi seluruh masyarakat.