Oli mesin adalah nyawa bagi motor. Fungsinya krusial: melumasi komponen, mendinginkan mesin, dan membersihkan kotoran hasil pembakaran. Tanpa oli yang cukup dan berkualitas, performa motor bisa langsung drop dan kerusakan parah mengintai.
Banyak pengendara abai soal penggantian oli. Padahal, idealnya, oli harus diganti setiap 3.000 kilometer atau tiga bulan sekali, tergantung mana yang lebih dulu tercapai. Pertanyaannya, apa yang terjadi jika motor dipaksa jalan tanpa oli?
Pakar otomotif dari salah satu jaringan bengkel motor terkemuka, Edwin Setyawan, menegaskan, menghidupkan motor tanpa oli sama dengan mengundang malapetaka. "Mesin itu isinya komponen yang bergesekan terus-menerus. Oli itu pelumasnya. Kalau tidak ada oli, gesekan jadi ekstrem, panasnya luar biasa, dan ausnya cepat sekali," jelas Edwin kepada redaksi, belum lama ini.
Edwin melanjutkan, efek buruknya tidak instan memang, tapi kerusakan fatal pasti terjadi. "Awalnya mungkin suara mesin jadi kasar, tarikan berat. Tapi lama-kelamaan, komponen seperti piston, stang seher, dan bearing bisa jebol. Ujung-ujungnya, ya turun mesin," imbuhnya. Biaya turun mesin ini tentu tidak sedikit, bisa jutaan rupiah tergantung jenis motor dan tingkat kerusakannya.
Lebih lanjut, Edwin menekankan bahwa menggunakan oli yang tidak sesuai standar pun sama bahayanya. "Oli yang viskositasnya tidak tepat atau kualitasnya jelek, tidak akan memberikan perlindungan maksimal. Efeknya sama saja, mesin jadi rentan aus dan overheat," paparnya.
Jadi, jangan pernah menyepelekan peran oli mesin. Rutinlah mengganti oli dengan produk yang berkualitas dan sesuai rekomendasi pabrikan. Lebih baik mencegah daripada mengobati, kan? Sayangi motor Anda, jangan sampai menyesal karena teledor soal oli.